Pencopet Cilik
Hari ini begitu cerah tak seperti hari - hari sebelumnya. Ku tapaki jalan kecil yang penuh lumpur bekas guyuran hujan siang tadi. Halte mulai tampak sepi. Di sini aku biasa duduk, bukan untuk untuk menunggu bus namun sekedar melepas penat .
Seorang lelaki kecil nampak memandangiku dari kejauhan. Aku yang asyik dengan smartphoneku tak menghiraukannya.Hingga tanpa ia merebut dari ggenggamanku. Aku pun mengejarnya hingga cukup jauh. Namun aku tidak dapat mengejarnya. Bayang - bayangnya menghilang dalam sekejap.
" Ada apa, Mas, " tanya seorang juru parkir .
" Saya kecopetan, Mas , " ujarku .
" Wah , disini memang rawan , Mas . Harusnya Mas lebih berhati - hati, sudah banyak yang jadi korbannya, " Ucapnya.
Aku pun pulang dengan penuh kegelisahan .
**
" HP kamu kemana, Man ? Sudah dua hari ini ibu tidak melihatnya. " tanya ibu.
" E..em..anu bu ... lagi di servis , Bu . Tadi jatuh sewaktu di charge. " ucapku . Aku tak berkata yang sebenarnya .
***
Hari ini aku pergi ke kantor lebih awal. Sudah beberapa menit aku di perempatan jalan ini namun angkot yang biasa ku tumpangi tak kunjung datang. Tanpa sengaja aku melihat anak kecil yang kemarin mencopetku. Ia tampak mendekati seorang lelakidan mengambil dompet dari saku celana lelaki itu tanpa ia sadari. Dengan santainya ia berjalan meninggalkan lelaki itu. Aku pun yang penasaran aku terus mengikuti anak itu. Hingga tiba di sebuah rumah tua.
Anak itu memasuki rumah itu dengan sumringah. Beberapa menit kemudian ia keluar dan pergi dengan membawa bungkusan kecil. Aku makin penasaran dengan anak itu dan juga dengan rumah tua itu. Aku memberanikan diri memasuki rumah itu yang kebetulan tidak terkunci. Sekilas rumah ini tampak mengerikan. Aku mengitari seluruh ruangan ini. Tak ada sesuatu aneh di rumah ini .
Tiba - tiba " bruuk"
Aku yang sibuk mengamati ruangan ini pun terkejut. Aku mencari sumber suara. Ku temukan sebuah kamar dengan pintu setengah terbuka. Ku temukan seorang wanita muda. Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Bercak darah tertempel di sebuah sapu tangan .
"Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperi memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau. Matanya tertutup perlahan - lahan . Aku memberanikan diri untuk masuk dan mendekati wanita muda itu. Ku pegang pergelangan tangannya. Denyut nadi nya masih terasa. Aku menelpon ambulans .Tiba - tiba seorang lelaki kecil berdiri di belakangku .
" Siapa kamu ? Kamu masuk rumahku aku tanpa permisi, " ucapnya.
" Maaf aku hanya ... " belum sempat aku menjawab ia sudah memotong pembicaraanku .
" Sudahlah , mendingan kamu pergi dari sini!! " perintahnya. Aku pun menuruti keinginannya. Beberapa menit kemudian ambulan datang dan kami pun langsung ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menangani wanita muda itu. Anak kecil itu menunggu di luar bersamaku.
" Kamu yang sabar, ya . Kakak kamu pasti gak apa - apa kok, " ucapku menenangkan .
" Maafin aku, Kak aku telat bawain obat. Kalau aku tadi cepat, pasti gak kayak gini, " sesalnya. Anak itu terus menangis.
" Oh ya, makasih kak udah nolong kakakku, " ujarnya .
" Iya, sama - sama , " timpalku. Tiba - tiba saja ia mengulurkan sebuah bungkusan.
" Apa ini ?" tanyaku seraya membuka isi bungkusan.
" Uang ? " tambahku heran.
" Iya, aku tau Kakak ngikutin aku karena mau cari hape kakak, kan ? Tapi maaf hape Kakak udah aku jual dan ini uang hasil penjualannya, " Ucapnya bersalah .
" Sudahlah mendingan ini buat kamu bayar biaya rumah sakit Kakak kamu, " ucapku.
" Tapi ini kan punya Kakak, " ujarnya. " Sudahlah kamu sedang membutuhkannya," ucapku .
" Sekali lagi terima kasih, Kak. Kakak baru aku kenal tapi udah nolongin aku .Maafin aku ya, "
" Iya , lain kali kamu jangan berbuat seperti itu lagi. Ya udah kakak pamit dulu , " ucapku. Aku pun berlalu meninggalkan anak itu .